
Esposin, SOLO — Siapa sangka, meski masih sangat muda, pria asal Kota Solo, Bayu Fedra Abdullah, 25, punya pengalaman segudang dalam bidang cyber security atau keamanan siber. Bahkan ia berhasil menembus konferensi keamanan siber paling bergengsi di dunia, Black Hat, pada 2025.
Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini awalnya sama sekali tidak memiliki minat (passion) di dunia teknologi informasi (TI), apalagi bidang keamanan siber. Ia hanya iseng.
Fedra, sapaan akrabnya, mengaku masuk Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Solo, jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), hanya karena mengikuti jejak teman-temannya.
“Awalnya saya cuma ikut-ikut teman, enggak ada passion atau kemauan di IT sebenarnya. Sempat ingin belajar desain, tapi saya merasa desain makin ke sini makin bisa diotomatisasi,” kata Fedra kepada Espos, Senin (19/1/2026).
Seiring waktu, ketika masih duduk di SMKN 2 Solo ia diarahkan oleh salah satu guru untuk mencoba di bidang keamanan siber. Ia pun mengikuti arahan guru dan mulai menekuni bidang itu.
Puncaknya, buah dari ketekunannya itu mengantarkan Fedra menjadi pembicara dalam dua ajang bergengsi sekaligus, yakni Black Hat Middle East and Africa (MEA) di Riyadh, Arab Saudi, dan Black Hat Europe di London, Inggris, pada Desember 2025 lalu.
Di hadapan para pakar keamanan siber global, Fedra mempresentasikan dua tools ciptaannya. Di Riyadh, ia memaparkan Internet Protocol Threat Intelligence (IPTI), sebuah alat yang ia ciptakan untuk mengautomasi tugas repetitif dalam menilai risiko keamanan sebuah alamat IP.
10 Tahun di Dunia Profesional
Sementara di London, ia membawa Most Basic Penetration Testing Lab (MBPTL). Inovasi ini merupakan platform pembelajaran komprehensif yang dirancang untuk membantu pemula mempelajari penetration testing dengan lebih mudah dan terstruktur. Ini menutup celah dari alat pembelajaran yang sudah ada sebelumnya.
Kapasitas Fedra dalam menciptakan tools tersebut tidak lepas dari jam terbangnya yang tinggi. Meski kini statusnya masih mahasiswa tingkat akhir S1, pengalaman profesionalnya di dunia keamanan siber sudah melampaui satu dekade.
Bahkan, ia sudah terlibat dalam berbagai proyek audit keamanan sejak masih berseragam SMKN 2 Solo. Begitu lulus sekolah, ia langsung bekerja sebagai Penetration Tester. Uniknya, sejak pekerjaan pertamanya hingga saat ini, Fedra selalu bekerja dengan sistem jarak jauh atau remote.
“Dari lulus SMK saya langsung kerja profesional dan dari pertama kerja selalu remote. Enggak pernah ngantor tetap,” ujarnya.
Portofolio kariernya pun mentereng. Dalam akun LinkedIn pribadinya, Fedra tercatat pernah bekerja di startup unicorn Ajaib sebagai Senior Security Engineer pada 2022-2023. Saat ini, ia bekerja penuh waktu sebagai Application Security Engineer untuk sebuah perusahaan di Singapura.
Kini, peran Fedra di kancah nasional pun telah bergeser. Jika dulu ia adalah langganan juara kompetisi keamanan siber, sekarang ia lebih sering dipercaya sebagai juri dan pembuat soal, termasuk untuk kompetisi yang digelar Kementerian Kesehatan.
“Ke depan saya ingin lebih aktif berkontribusi di komunitas. Saya ingin terus meningkatkan skill agar tidak tertinggal dan bisa terus berbagi ilmu dengan teman-teman,” katanya.




